Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Gelar Roadshow Geothermal Goes to Campus

[Unpad.ac.id, 09/03/2017] Direktorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral RI menggelar roadshow “Geothermal Goes to Campus” (GGTC) ke beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran menjadi kampus pertama digelarnya kegiatan tersebut.

Dekan FTG Unpad Dr. Vijaya Isnaniawardhani,Ir., M.T. dan Direktur Panas Bumi EBTKE Ir. Yunus Saefulhak, M.M., M.T menandatangani Perjanjian Kerja Sama antara FTG Unpad dengan Dirjen EBTKE Kementerian ESDM (Foto oleh : Tedi Yusup)*

Dekan FTG Unpad Dr. Vijaya Isnaniawardhani,Ir., M.T. dan Direktur Panas Bumi EBTKE Ir. Yunus Saefulhak, M.M., M.T menandatangani Perjanjian Kerja Sama antara FTG Unpad dengan Dirjen EBTKE Kementerian ESDM (Foto oleh : Tedi Yusup)*

Acara digelar di Auditorium FTG Unpad Kampus Jatinangor, Kamis (09/03). Acara yang dihadiri langsung Direktur Panas Bumi Ir. Yunus Saefulhak, M.M., M.T., Dekan FTG Unpad Dr. Vijaya Isnaniawardhani,Ir., M.T.,sejumlah dosen, dan mahasiswa FTG Unpad ini diisi oleh kuliah umum dari sejumlah praktisi di bidang geothermal.

Dalam sambutannya, Yunus mengatakan, GGTC digelar untuk membuka wawasan para mahasiswa terkait potensi panas bumi di Indonesia. Ia berpendapat, potensi geothermal Indonesia dapat menjadi alternatif di samping pemanfaatan sektor migas atau bahan bakar fosil lainnya.

Yunus mengungkapkan, pemanfaatan sektor energi alternatif, termasuk di dalamnya energi panas bumi, di Indonesia masih rendah, yakni sekitar 6,2% dari total pemanfaatan sumber energi. Padahal, Indonesia telah menduduki peringkat 3 sebagai penghasil geothermal terbesar di dunia, yakni sebesar 1.643,5 megawatt.

Pemerintah sendiri menargetkan peningkatan produksi geothermal sebesar 7.200 megawatt hingga 2025. Namun, upaya ini perlu dukungan banyak pihak, terutama di sektor penambahan tenaga kerja. Pihaknya telah menghitung, jika setiap produksi geothermal per 1 megawatt membutuhkan 2 orang teknisi, maka untuk memproduksi 7.000 megawatt membutuhkan sekitar 14.000 teknisi.

“Ini perlu usaha dan kerja keras dari semua pihak,” kata Yunus.

Di sisi lain, energi geothermal merupakan energi yang ramah lingkungan. Yunus mengatakan, hanya 1,5% dari energi geothermal yang menghasilkan emisi carbon dioksida (CO2). Angka ini jauh lebih sedikit dibandingkan dengan gas yang menghasilkan CO2 sebesar 2,57%. Sehingga, Yunus optimis energi geothermal bisa menjadi energi yang ramah lingkungan dan berkalnjutan.

“Kalau kita sudah punya energi yang ramah lingkungan, otomatis ketahanan negara terhadap energi akan jauh lebih tahan,” ujar Yunus.

Untuk itu, melalui forum GGTC ini, ia berharap mahasiswa dalam membuka wawasan terhadap potensi panas geothermal, sekaligus mampu memberi masukan terhadap solusi dari berbagai masalah di bidang pemanfaatan geothermal.

Adapun pemateri yang tampil dalam GGTC di Unpad yaitu, Yustin Kamah (PT. Pertamina Upstream Technology Center), Riki Irfan (Chevron Geothermal Indonesia Ltd), Mulyadi (Star Energy Geothermal Ltd), dan Bintara (Direktorat Panas Bumi Dirjen EBTKE RI).

Dalam kesempatan tersebut juga ditandatangani Perjanjian Kerja Sama antara FTG Unpad dengan Dirjen EBTKE Kementerian ESDM. Penandatanganan dilakukan langsung oleh Dr. Vijaya dengan Yunus.*

Laporan oleh Arief Maulana/wep