Laboratorium Geologi Lingkungan dan Hidrogeologi FTG UNPAD Berpartisipasi Aktif dalam The 7th PAAI Annual Meeting & 8th APCAMM

Perwakilan Laboratorium Geologi Lingkungan dan Hidrogeologi, FTG Unpad pada The 7th PAAI Annual Meeting & 8th APCAMM di Bandung. Foto oleh: Sapari Dwi Hadian

Sumedang, 9 Agustus 2025 – Laboratorium Geologi Lingkungan dan Hidrogeologi, Fakultas Teknik Geologi (FTG), Universitas Padjadjaran (Unpad), melalui tema “Memperkuat Ketahanan Airtanah Pesisir melalui Inovasi Ilmiah dan Kolaborasi Kawasan”, kembali menunjukkan komitmennya dalam pengembangan riset dan solusi ilmiah melalui partisipasi aktif dalam The 7th Annual Meeting of Perhimpunan Ahli Air Tanah Indonesia (PAAI) dan The 8th Asia-Pacific Coastal Aquifer Management Meeting (APCAMM) yang diselenggarakan di Bandung pada 6–9 September 2025.

Pertemuan ilmiah bertaraf regional ini mengangkat tema utama, “Assessing the Impacts of Climate Change and Urbanization on Coastal Aquifer Systems” yang membahas berbagai isu penting terkait dampak perubahan iklim, tekanan pembangunan perkotaan, serta upaya keberlanjutan pengelolaan airtanah pesisir, khususnya di wilayah tropis Asia-Pasifik.

Kontribusi Unpad dalam Forum Ilmiah
Tim dari Laboratorium Geologi Lingkungan dan Hidrogeologi FTG Unpad berperan aktif dalam sesi diskusi dan presentasi dengan fokus utama pada:

  1. Kajian dampak perubahan iklim terhadap proses imbuhan airtanah dan intrusi air asin di akuifer pesisir wilayah Jawa Barat.
  2. Analisis tekanan urbanisasi yang menyebabkan perubahan zona imbuhan airtanah dan peningkatan risiko pencemaran di kawasan pesisir.
  3. Pendekatan interdisipliner dalam pengelolaan terpadu wilayah pesisir dan akuifer melalui integrasi data geologi, hidrologi, dan tata ruang wilayah.

Partisipasi ini menegaskan posisi Unpad sebagai institusi akademik terdepan yang aktif mendorong riset berbasis solusi untuk mengatasi krisis sumber daya airtanah, terutama di kawasan pesisir yang rentan terhadap perubahan iklim dan aktivitas antropogenik.

Isu Strategis yang Dibahas dalam Pertemuan

  1. Dampak Perubahan Iklim:
    Kenaikan muka air laut, perubahan pola curah hujan, dan frekuensi cuaca ekstrem yang meningkat berdampak signifikan pada ketersediaan airtanah dan risiko salinisasi di akuifer pesisir.
  2. Tekanan Urbanisasi:
    Perubahan tata guna lahan dan ekstraksi airtanah yang tidak terkelola berpotensi menimbulkan pencemaran serta menurunkan daya dukung sistem akuifer pesisir.
  3. Kolaborasi Lintas-Sektor:
    Pendekatan terpadu yang melibatkan akademisi, pengelola sumber daya air, pembuat kebijakan, dan perencana wilayah dinilai krusial untuk menjaga keberlanjutan sistem airtanah pesisir.
  4. Solusi Berbasis Alam dan Teknologi:
    Strategi adaptasi seperti Managed Aquifer Recharge (MAR), pengembangan infrastruktur hijau, serta pemanfaatan teknologi pemantauan airtanah menjadi sorotan utama dalam pengelolaan sumber daya air pesisir.
  5. Tantangan Regional dan Tata Kelola:
    Pengelolaan akuifer lintas batas serta penguatan kapasitas sumber daya manusia di negara-negara kepulauan menjadi fokus penting dalam membangun ketahanan wilayah pesisir secara kolektif.


Komitmen Unpad ke Depan

Melalui forum ini, Universitas Padjadjaran memperkuat komitmen untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan yang aplikatif dan mendorong kerja sama internasional dalam menghadapi tantangan ketahanan air di masa depan. Unpad percaya bahwa inovasi ilmiah dan kolaborasi kawasan menjadi kunci utama untuk menjaga keberlanjutan sumber daya airtanah pesisir bagi generasi mendatang.